Tuesday, October 28, 2008

baSkEtbAlL





Basketball is a team sport in which two teams of five active players each try to score points against one another by propelling a ball through a 10 feet (3 m) high hoop (the goal) under organized rules. Basketball is one of the most popular and widely viewed sports in the world.[citation needed]

Points are scored by shooting the ball through the basket above; the team with more points at the end of the game wins. The ball can be advanced on the court by bouncing it (dribbling) or passing it between teammates. Disruptive physical contact (fouls) is not permitted and there are restrictions on how the ball can be handled (violations).

Through time, basketball has developed to involve common techniques of shooting, passing and dribbling, as well as players' positions, and offensive and defensive structures. Typically, the tallest members of a team will play center or one of two forward positions, while shorter players or those who possess the best ball handling skills and speed, play the guard positions. While competitive basketball is carefully regulated, numerous variations of basketball have developed for casual play. In some countries, basketball is also a popular spectator sport.

While competitive basketball is primarily an indoor sport, played on a basketball court, less regulated variations have become exceedingly popular as an outdoor sport among both inner city and rural groups.

Cantik? apkH harus KUruS?



Isu mengenai berat badan ideal selalu menjadi pembicaraan di kota metropolis seperti Jakarta. Bagi yang memiliki berat badan berlebih, menurunkan berat badan agar kelihatan langsing merupakan kewajiban agar "diterima" dalam lingkungan sosialnya. Tidak jauh beda dengan si kurus, segala cara akan diusahakan untuk bisa mencapai tubuh berisi yang seksi, mulai dari makan makanan dengan karbohidrat tinggi sampai dengan terapi suntik hormon yang dapat menguras isi kantong. Semuanya ini dilakukan agar dapat memenuhi standar penampilan fisik yang aduhai.

Zaman dulu, kurus menjadi icon dan parameter bentuk tubuh ideal untuk seorang model yang berjalan di atas panggung catwalk, sehingga banyak orang menjadi terobsesi menjadi kurus. Nah, sekarang kurus tidak lagi menjadi tren. Banyak orang (baca:wanita) justru cenderung merindukan bentuk tubuh yang berisi dan berlekuk. Coba deh bandingkan antara bentuk tubuhnya Kate Moss dengan Jennifer Lopez. Sebagian besar kaum adam mengaku body seksi seperti J-Lo lebih menarik ketimbang paras wajah. Tentu saja fisik yang berisi dan seksi bukanlah menjadi satu satunya faktor penentu dalam memperoleh pekerjaan atau mendapatkan pasangan, tetapi hal ini dapat memupuk kepercayaan diri kita untuk bisa berkarya sebaik mungkin.

Seperti yang terjadi pada Novy, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Dengan tinggi 171 cm dan berat hanya 43 kg, Novy sangat tidak percaya diri untuk melakukan fashion experiment. Dengan fisik yang sangat kurus, Novy selalu mendapat masalah dengan pakaiannya. Sering kali Novy harus menjahit ulang celana atau rok, dan bahkan merapatkan baju dengan peniti agar bisa pas melekat di badan. Rasa kurang percaya diri ini semakin berkembang tatkala Novy melihat rekan rekan wanitanya bisa mengenakan model baju stretch tank top ataupun backless. Agaknya prestasi Novy dalam menaikkan berat badan tidak secemerlang prestasi akademiknya di kampus.

Dalam kesehariannya Novy selalu berusaha untuk menaikkan berat badannya dengan banyak cara. Mulai dari minum jamu gendong, tablet herbal penggemuk badan, suntik hormon, melipatgandakan porsi makan, sampai ngemil di malam hari. Semua usaha tersebut tidak memberikan hasil maksimal. Berat badan Novy hanya naik 1 kg dan bertahan dalam hitungan 1 bulan untuk kemudian turun kembali ke angka awal.

Sampai akhirnya seorang teman menyarankannya untuk rutin minum susu. Ini bukan susu sembarangan, melainkan Appeton Weight Gain (AWG), susu impor dari Perancis yang diformulasikan khusus untuk membantu meningkatkan berat badan secara alami dan sehat. Semula Novy ragu, namun setelah sang teman menjelaskan bahwa produk yang dimaksud merupakan produk yang berkualitas tanpa efek samping, maka Novy pun tak urung tertarik untuk mencobanya.

Alhasil, dalam waktu 2 bulan mengkonsumsi 1 gelas susu di waktu pagi, siang dan sore, perubahan positif mulai nampak pada fisik Novy. Selama proses tersebut, Novy tidak sedikitpun mengurangi pola makan 3 kali sehari sehingga secara bertahap namun pasti, tubuh kerempengnya mulai berisi. Yang paling menggembirakan adalah pencapaian berat badan tersebut tidak bersifat yo-yo alias turun lagi.

Rahasianya terletak pada efektivitas AWG dalam membantu meningkatkan penyerapan protein sehingga dapat memacu pertumbuhan jaringan tubuh. Dengan PER dan biovabilitas yang tinggi, AWG dapat meningkatkan penyerapan protein sehingga jaringan tubuh dapat terbentuk. Berkat AWG, Novy kini tak lagi minder untuk bisa tampil menawan dengan kebaya saat pesta wisuda.

aPa tuGas oRang Tua teRhaDap aNak??



Akibat kemajuan teknologi, dunia menjadi sebuah kampung kecil yang mudah dijangkau oleh siapapun. Manusia tanpa harus keluar dari rumah, ia bisa melakukan komunikasi dengan yang lainnya secara langsung. Kendati kemajuan ilmu pengetahuan memberikan faedah, namun ia juga mengakibatkan pelbagai pengaruh negatif. Karena itu yang terpenting adalah bagaimana kita harus menggunakannya dengan baik sehingga bisa mencegah efek samping yang ditimbulkannya.

Pembongkaran ulang makna kebebasan dan nilai kemanusiaan adalah salah satu dari sekian hal yang menjadi sasaran untuk menghancurkan kehidupan sosial masyarakat muslim. Dengan segala kekuatan, ada saja pihak yang hendak berupaya menghapus identitas Islam para remaja muslim.

Salah satu alat yang bisa digunakan untuk menghancurkan jati diri dan kesucian serta kemuliaan para remaja muslim adalah parabola dan internet, yang telah menjalar ke negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim sehingga imbasnya pun tampak begitu jelas. Sebagian dari mereka telah kehilangan identitas Kebangsaan dan keagamaannya, serta memunculkan beragam bentuk penyimpangan sosial di tengah masyarakat muslim.

Sebelum kita memasuki bahasan penyimpangan sosial, untuk memperjelas mukadimah bahasan perlu kita tilik terlebih dahulu makna dan posisi kebudayaan sehingga kita bisa kenali sekian penyimpangan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Kebudayaan memiliki pengertian yang bermacam-macam akan tetapi yang menjadi perhatian penulis di sini adalah kebudayaan yang berartikan sehimpun kepercayaan, wawasan-wawasan, nilai-nilai, etika dan tradisi tata susila serta pemikiran-pemikiran yang sudah diakui dan menguasai masyarakat.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam ucapannya, ‘Kebudayaan setiap masyarakat dan bangsa serta setiap revolusi bersumber dari sekian hasil karya pemikiran dalam masyarakat yang meliputi pengetahuan, norma, tradisi-tradisi dan sebaginya. Bisa dikatakan secara keseluruhan bahwa pemikiran yang menguasai sebuah masyarakat adalah pemikiran yang muncul dari masyarakat itu sendiri atau didapatkan dari luar masyarakat itu’.[1]

Berdasarkan definisi ini kebudayaan Islam bisa diartikan sebagai proses pemikiran, kepercayaan, wawasan, nilai-nilai dan norma, etika, serta tradisi-tradisi dan pengetahuan yang bersumber dari wahyu Ilahi dan sunah Rasulullah saw serta para Imam maksum as.[2]

Dasar yang paling penting dari sebuah masyarakat adalah kebudayaan masyarakat itu. Karena kebudayaanlah yang menentukan segenap aspek politik, sosial, legalitas dan moralitas masyarakat; dan aspek-aspek tersebut muncul dari kebudayaan masyarakat itu sendiri. Berdasarkan pemikiran Islam, kebudayaan adalah ruhnya peradaban. Peradaban tidak lain adalah kulitnya kebudayaan. Perubahan dan pergantian serta munculnya peradaban bergantung pada kebudayaan atau hasil dari perubahan dan munculnya kebudayaan. Inilah kedudukan kebudayaan.

Dari sini jelas bahwa penyimpangan sosial bisa dipengertikan sebagai lawan dari proses pemikiran, keyakinan, wawasan, nilai-nilai dan norma, tradisi dan moral serta pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari limpahan wahyu ilahi dan sunah Nabi saw dan para Imam maksum as.

Pengaruh penyimpangan sosial

Penyebaran model pakaian yang tidak sopan dan bertentangan dengan aturan-aturan Islam serta paras yang mencolok, pemutaran film-film amoral melalui chanel-chanel tv dan internet, serta penyebaran kaset-kaset dan cd-cd hiburan yang tidak mendidik. Pencetakan buku-buku, majalah, dan novel yang bertentangan dengan etika dan membakar nafsu seks para remaja. Pengadaan konser musik antara remaja putra dan putri memiliki akibat buruk yang melanda para remaja dalam masyarakat. Khususnya remaja yang sedang mengalami usia sensitif yaitu masa puber di mana mereka sangat mudah terpengaruh dan banyak lagi beragam fenomena penyimpangan sosial lainnya. Hal yang demikian itu akan memunculkan pelbagai pengaruh dan akibat seperti:

1. Ketidakstabilan rumah tangga.

Adanya penyimpangan sosial seperti tidak terjaganya hubungan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki di kantor-kantor dan perusahaan serta tidak adanya penjagaan dalam berpakaian di mana para wanita dengan gaya pakaian dan parasnya yang menggoda, hal ini selain tidak akan menjadikan hubungan keluarga harmonis bahkan merusak hubungan hangat anggota keluarga. Antara suami istri yang seharusnya mereka harus saling mempercayai, mereka tidak lagi memiliki kepercayaan dengan pasangannya. Ketika kepercayaan di antara mereka sudah tidak ada lagi maka keakraban dan kehangatan pun tidak akan terlihat lagi. Dan yang terpenting adalah kondisi semacam ini tidak hanya akan menghancurkan kehidupan duniawi seseorang tapi juga kehidupan ukhrawinya.

2. Kejahatan seksual

Tentu kita semua menyaksikan pelbagai fenomena yang diakibatkan oleh penyimpangan sosial, di antaranya adalah munculnya pelbagai kebejatan seksual yang terjadi di masyarakat kita. Kiranya, saya tidak perlu lagi memberikan contohnya.

3. Merajalelanya kejahatan dan pembunuhan

Kesenjangan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat di mana sebagian kelompok hidup dalam kemewahan dan kelompok lainnya dalam kekurangan dan kemiskinan, dan yang kaya pun tidak memikirkan mereka yang papa. Kesenjangan sosial semacam ini mengakibatkan munculnya rasa cemburu di kalangan kaum miskin terhadap orang-orang kaya yang pada akhirnya timbullah pelampiasan rasa dendam mereka untuk berani mencuri dan membunuh sekalipun. Di sisi lain, penyiaran film-film yang menghambur-hamburkan kekerasan dan amat bertentangan dengan moral adalah salah satu faktor penting yang menyebabkan maraknya kriminalitas dan pembunuhan di tengah masyarakat.

4. Kebejatan moral

Yang patut disayangkan adalah apabila para remaja muslim sudah terseret pada kebejatan moral dan tidak mampu mengendalikan dirinya. Jika seseorang sudah terseret pada kebejatan moral dan tidak mampu mengendalikan dirinya maka ia akan kehilangan nilai-nilai spiritual dan religius. Inilah yang sudah direncanakan oleh agen-agen tertentu berdasar rencana yang matang guna menghancurkan remaja Islam. Ketika generasi muda sebuah negara sudah kehilangan nilai-nilai spiritual maka negara itu akan mudah untuk dijajah.

5. Perusakan akidah dan keyakinan

Ideologi manusia memiliki peran langsung dalam perilaku dan amalannya. Poin penting yang menjadi perhatian di sini adalah bahwa perilaku manusia memiliki pengaruh timbal balik terhadap akidah dan keyakinannya yakni sebagaimana akidah yang rusak ia akan menghasilkan perilaku yang rusak, perilaku yang buruk juga akan merusak akidah dan keyakinan manusia. Oleh karena itu antara keduanya saling mempengaruhi. Dalam ayat al-Quran Allah swt berfirman: Sekali-kali tidak demikian sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka’.[3]

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang lebih buruk. Karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah.[4]

Ayat-ayat ini menunjukkan betapa perilaku-perilaku buruk menyebabkan lemahnya iman dan bahkan berakhir dengan hilangnya iman. Contoh jelasnya yang bisa kita saksikan adalah kelalaian dalam bertindak dan tidak berpegang pada aturan Islam, tidak memakai pakaian yang sesuai dengan syariat, maraknya pornografi dan pornoaksi. Naifnya, perilaku buruk semacam itu ternyata dilakukan juga oleh sebagian remaja muslim. Tentu saja, hal ini akan berpengaruh pada masalah-masalah lainnya yang pada akhirnya akan menyebabkan seorang muslim kehilangan imannya.

Imam Baqir as bersabda: ‘Tidak satu pun yang bisa merusak hati kecuali dosa. Dosa selalu bertengkar dengan hati sampai dia bisa mengalahkan dan menjelmakan yang tinggi menjadi rendah dan menjelmakan yang rendah menjadi tinggi.[5]

Dengan demikian tasamuh dan tasahul (toleransi) yang berlebih-lebihan dalam furuuddin menyebabkan rusaknya akidah apalagi jika melakukan penyimpangan sebagaimana yang sudah kita sebutkan tadi.

6. Tidak kenal diri dan ikut-ikutan orang lain

Manusia-manusia yang tidak memiliki keimanan yang kuat ia tidak akan mampu membentengi dirinya di hadapan pelbagai macam godaan duniawi. Ia akan menerima segala apa yang ditawarkan, khususnya generasi muda dan para remaja, karena mereka sedang dalam usia yang betul-betul sensitif dan lebih mudah dipengaruhi, yang akibatnya akan menghilangkan jati diri mereka sehingga mudah terbujuk dan terpengaruh pihak lain. Mereka bagaikan bangkai yang mengikuti arus sungai. Sebaliknya bila mereka hidup maka mereka akan menghadang arus yang sedang mengalir. Remaja-remaja yang kehilangan jati dirinya dan mengikuti budaya amoral, sejatinya mereka tidak mengenal siapa dirinya. Imam Ali bin Abi Thalib as Bersabda: ‘sesungguhnya hanya sedikit orang yang menyamakan dirinya dengan sebuah kaum akan tetapi ia tidak terhitung seperti mereka’.[6] Rasulullah saw bersabda: ‘barang siapa yang menyamakan dirinya dengan sebuah kaum maka ia termasuk mereka’.[7]

Peran Orang Tua

Setelah kita mengkaji pengaruh penyimpangan sosial, muncul pertanyaan baru ‘Apa tugas kedua orang tua di hadapan anak-anaknya?’ Mengingat bahwa rumah adalah basis pertama bagi setiap manusia maka kedua orang tualah yang memiliki tugas berat dalam mendidik anak-anaknya:

1. Kedua orang tua harus memenuhi hak-hak anak dalam pendidikan agama. Agama dan akal menghukumi bahwa kedua orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Kedua orang tua harus berusaha mendidik anaknya berdasarkan program yang baik sehingga mereka tidak tersesat dan menjadi orang yang baik serta berguna bagi agamanya. Untuk sampai pada tujuan ini orang tua memiliki tugas berat yang ada di pundaknya. Langkah pertama yang harus dijalankan oleh kedua orang tua adalah menjaga kesehatan dan kebersihan jasmani anak-anak, kemudian baru mendidik mereka mengenai prinsip-prinsip moral dan akhlak. Kedua orang tua hendaknya mendidik anaknya sehingga mereka dalam segala perilakunya berasaskan ajaran agama dan keimanan kepada Allah yang Esa. Rasulullah saw bersabda: ‘setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah (beragama Islam) kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi atau Nasrani’. [8]

Dalam lingkungan sosial anak-anak akan menghadapi pelbagai macam kesulitan dan ketidakstabilan sosial. Jelas, mereka akan menghadapi pelbagai macam karakter manusia dengan adat istiadatnya yang berbeda-beda, bahkan mereka akan juga menghadapi pelbagai macam penyimpangan sosial. Oleh karenanya untuk menjaga mereka dari pelbagai penyelewengan, mereka memerlukan ciri-ciri kejiwaan dan moralitas, dan ini adalah tugas kedua orang tua yang harus menyiapkan fondasinya.

2. Kedua orang tua harus mewujudkan lingkungan keluarga yang hangat dan menghadapi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Para psikolog mengatakan bahwa salah satu faktor utama kekacauan jiwa pada anak-anak adalah ketidakharmonisan keluarga dan perselisihan rumah tangga. Oleh karenanya ketika anak mengalami kekacauan jiwa ia akan melampiaskannya kepada penyimpangan sosial bahkan ia akan melakukan apa saja. Sebaliknya jika lingkungan keluarga penuh dengan kasih sayang dan keakraban anak akan mampu menjaga kestabilan jiwanya. Sebagaimana anak sejak lahir membutuhkan makanan yang sehat ia juga membutuhkan makanan lain yaitu ketenangan jiwa.[9] Anak-anak yang tidak mendapatkan ketenangan jiwa ia akan mengalami kegelisahan, ia tidak percaya diri dan akan mencari tempat lain untuk berlindung. Untuk mencegah hal tersebut kewajiban kedua orang tua adalah menjaga lingkungan keluarga tetap hangat dan harmonis. Anak-anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang kedua orang tuanya, lebih-lebih jika anak dalam masa pertumbuhan (balig). Dalam masa yang cukup sensitif ini orang tua yang berakal akan berperan sebagai teman akrab bagi anaknya dan dengan pengalaman dan pikiran jangka panjangnya mereka menjaga si anak hingga jangan sampai terjerumus ke dalam penyimpangan sosial.

Jika hubungan antara ayah dan anak atas dasar ancaman dan paksaan maka dengan berjalannya waktu hubungan keduanya akan merenggang. Anak-anak yang hidup dalam kondisi tertekan dengan sendirinya mereka akan mencari pelampiasan kepada orang lain bahkan mereka akan melarikan diri dari rumahnya.[10] Maka kewajiban kedua orang tua di hadapan pelbagai macam penyimpangan sosial adalah meneliti dengan baik faktor-faktor yang berperan dalam menyebarluaskan serangan budaya negatif dan penyimpangan sosial, serta menjelaskannya kepada anak-anak tentang beragam bentuk penyimpangan sosial. Dengan pelbagai bentuk penyimpangan yang ada, orang tua bisa menjaga anaknya dengan memperkuat rasa percaya diri dan kelayakan diri, serta kebanggaan beragama dan nasionalisme, dan juga kebebasan dan kemandirian pada diri mereka dengan cara menghormati dan menghargai mereka.[11]

3. Selain orang tua mengenalkan kepada anak-anak beragam bentuk penyimpangan sosial, mereka juga harus dikenalkan akan nilai-nilai dan tolok ukur kemasyarakatan sehingga ketika mereka menyaksikan tindakan-tindakan yang tidak pantas dengan sendirinya mereka akan paham bahwa tindakan semacam itu tidak sesuai dengan sistem nilai kemasyarakatan kemudian mereka pun akan berupaya menjaga dirinya dari hal itu.

Sikap yang dilakukan anak-anak ini menunjukkan akan bagusnya pendidikan keluarga, karena keluarga adalah institusi awal satuan pendidikan dan sosial yang bersistem konstan (terus menerus dan berkestabilan) dan ia memiliki peran dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kejiwaan anak-anak serta pembentukan pribadi mereka, karena benih kepribadian seseorang terbentuk dalam lingkungan keluarga. Sekaitan dengan ini, Imam Ali as pernah bertutur kepada Imam Hasan as, bahwa sesungguhnya hati pemuda bagaikan tanah kosong yang tidak ada tanamannya, apa saja yang jatuh di dalamnya ia akan menerimanya, oleh karena itu aku mengajarimu dengan adab sebelum hatimu keras.[12]

4. Membiasakan Anak-anak dengan Nilai-nilai Spiritual.

Dalam teks-teks agama, iman merupakan inti kecenderungan dalam mempertimbangkan agama, yang pada hakikatnya ia juga kunci pokok kesalehan.[13] Sedang keluarga adalah tempat yang paling awal dalam membentuk manusia. Keluargalah yang menetapkan iman sebagai timbangan dalam perjalanan hidupnya sehingga akan memunculkan manusia-manusia yang beriman. Iman tampak dalam tiga aspek dasar agama yaitu usuluddin, furuuddin, dan akhlak. Kembali kepada peran kedua orang tua dalam menjaga anak-anak di hadapan penyelewengan sosial, maka kedua orang tua, dituntut untuk bisa menjalankan ketiga aspek dasar ini dalam kehidupan diri dan anak-anaknya, dan juga membiasakan anak-anak dengan nilai-nilai spiritual. Tentunya nilai-nilai spiritual agama ini harus dijalankan dalam lingkungan keluarga sesuai dengan tahap pertumbuhan mereka seperti beramanat, kesucian, mengajak kepada kebaikan, menjaga hak-hak orang lain, tingkah laku yang baik yang merupakan bagian dari akhlak norma sosial dan norma pribadi seperti ketakwaan, menjaga diri, taubat, kemuliaan diri, dan ikhlas serta hubungan manusia dengan Tuhannya seperti ma’rifat, keyakinan, harapan, tawakal, ibadah, zikir, syukur, membaca dan memikirkan ayat-ayat al-Quran, baik sangka kepada Allah dan hubungan manusia dengan akhirat seperti: yakin akan kehidupan setelah mati, yakin dengan akibat perbuatan dan masalah keluarga seperti menghormati dan menyayangi kedua orang tua, membentuk rumah tangga, hubungan dengan famili dan sebaginya.

Penyimpangan yang disebabkan karena struktur keluarga dan nilai-nilai pendidikan [14]

Sebelum pembahasan ini berakhir kita coba untuk mengkaji penyimpangan yang terjadi karena unsur pendidikan yang ada dalam keluarga. Karena penyimpangan yang terjadi bila penyebabnya adalah masalah sosial maka bila kondisi budaya masyarakat sudah jauh dari nilai-nilai Islam yang pertama kali harus dilakukan oleh kedua orang tua adalah menjaga anak-anaknya dalam bingkai yang sudah kita sebutkan di atas.

peRDaGanGan n KrjAsAmA inTeRnasiONal



Bila diamati dengan teliti, banyak barang atau jasa yang digunakan atau dikonsumsi bukan merupakan produksi dalam negari, misalnya komputer. Bagaimanakah barang dan jasa tersebut bisa sampai ketangan kita? Ya karena barang-barang ada yang tidak kita produksi, tetapi kita membutuhkannya.

Semua itu akan terjadi bilamana kita melakukan perdagangan dengan negara lain atau perdagangan internasional. Apakah perdagangan internasional itu?

Pengertian Perdagangan Internasional

Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar suka rela dan saling menguntungkan.

Bongkar muat barang (petikemas) sebagai wujud nyata adanya perdagangan internasional

Faktor-faktor yang mempengaruhi

a. Kemampuan suatu negara dalam memproduksi barang atau jasa terbatas.

b. Adanya manfaat yang diperoleh dari adanya perbedaan harga.

c. Adanya perbedaan faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara, misal Indonesia memiliki banyak sumber minyak bumi tapi memerlukan tenaga ahli yang handal untuk mengambilnya.

d. Perbedaan sosial budaya.

e. Perbedaan selera masyarakat

f. Adanya sarana komunikasi dan transportasi.

Indonesia adalah tetangga Australia yang terdekat. Hubungan antara kedua negara ini mempunyai sejarah yang panjang. Persamaan antara hewan dan tanaman yang ada di Australia, Irian Jaya, Nusa Tenggara dan Sulawesi merupakan bukti adanya hubungan tersebut. Juga terdapat hubungan sosial dan budaya. Cerita mengenai hubungan ini sudah lama dimulai dalam sejarah manusia. Namun sulit untuk mengatakan kapan tepatnya hubungan antara Australia-Indonesia itu dimulai.

Dalam Bab 4 kita telah dijelaskan sedikit mengenai sejarah suku-suku bangsa Aborijin di Australia. Tampaknya orang-orang ini datang ke Australia dari utara. Mungkin mereka melewati Indonesia dalam perjalanan ke Australia. Pada waktu itu adalah Zaman Es.

Zaman Es

Selama Zaman Es, lautan antara Indonesia dan Australia lebih dangkal dan lebih sempit daripada sekarang. Pada saat itu Australia sebenarnya menyatu dengan gugusan daratan di Irian dan Papua Nugini.

Australia, Irian Jaya dan Papua Nugini membentuk sebuah benua yang disebut Sahul oleh para ahli geografi. Hubungan fisik antara Australia dan Irian Jaya saat itu pasti lebih mudah daripada sekarang.

Zaman Es itu berakhir kira-kira 10.000 tahun yang lalu. Lautan antara Australia dan Indonesia melebar dan kawasan yang mengaitkan keduanya terendam di laut Arafura dan Laut Timor.

Dingo

Kira-kira 4.000 tahun yang lalu muncul Dingo atau anjing hutan di Australia. Dingo serupa dengan Ajak di Indonesia (anjing hutan). Konon, ada orang yang membawa Dingo itu dibawa ke Australia. Tampaknya pengunjung ini datang dari Indonesia.

Cerita Baiini

Suku bangsa Yirrkala di Tanah Arnhem bercerita mengenai suatu suku bangsa yang disebut Baiini yang datang dari utara. Konon mereka datang dengan menggunakan perahu layar bersama keluarganya, lama sebelum hunian Eropa di Australia.

Orang-orang Baiini tersebut membangun rumah-rumah dari batu dan kayu di daerah sepanjang pantai. Mereka menanam padi yang mereka sebut luda. Di samping itu, orang-orang Baiini tersebut menenun kain yang berwarna cerah yang disebut jalajal dan menggunakan sarung yang berwarna-warni.

Menurut cerita, suku Baiini tersebut akhirnya meninggalkan Australia dan berlayar kembali ke utara, dan meninggalkan tanaman padinya. Saat ini ada semacam tumbuhan sejenis rumput di kawasan ini; tumbuhan itu digunakan sebagai makanan oleh bangsa Aborijin. Cerita-cerita mengenai Baiini disampaikan dari mulut ke mulut. Sulit untuk diketahui apakah cerita ini hanya merupakan dongeng ataukah bukan.

Perahu-perahu layar dan angin monsun

Dimungkinkannya perjalanan melalui laut terjadi sejak dikembangkannya perahu kano yang kemudian menjadi perahu layar. Mungkin ini semakin memudahkan hubungan antara Indonesia dan Australia. Angin monsun baratlaut membantu pelayaran dari Indonesia ke Australia. Ketika angin berubah arah, yakni pada awal musim monsun tenggara, maka dimungkinkan untuk berlayar kembali ke Indonesia.

Hubungan paling awal yang tercatat

Para nelayan Bugis dan Makasar secara teratur berlayar ke perairan Australia sebelah utara setidaknya sejak tahun 1650. Pelayaran ini mungkin dimulai pada masa Kerajaan Gowa di Makasar. Para pelaut Makasar dan Bugis ini menyebut Tanah Arnhem dengan sebutan Marege dan bagian daerah barat laut Australia mereka sebut Kayu Jawa.

Tidak seperti legenda Baiini, orang-orang Makasar dan Bugis tidak datang bersama keluarga mereka. Mereka berlayar dalam bentuk armada perahu berjumlah 30 sampai 60 perahu, dan masing-masing memuat sampai 30 orang. Tujuan mereka adalah untuk mencari ikan teripang yang kemudian mereka asapi. Kemudian mereka membawa tripang itu kembali ke Sulawesi, dan selanjutnya diekspor ke Cina. Perjalanan mereka itu disesuaikan waktunya supaya mereka tiba di pantai utara Australia pada bulan Desember, yakni awal musim hujan. Mereka pulang di bulan Maret atau April, yakni akhir musim hujan.

Para nelayan ikan teripang itu membangun rumah-rumah sementara, menggali sumur dan menanam pohon-pohon asam. Hutan kecil pohon asam tersebut masih ada sampai saat ini.

Banyak orang-orang Aborijin yang bekerja untuk para nelayan tripang tersebut, mempelajari bahasa mereka, menggunakan kebiasaan menghisap tembakau, membuat gambar perahu, mempelajari tarian mereka dan 'meminjam' beberapa kisah yang mereka ceritakan.

Sebuah lukisan perahu yang dibuat oleh orang Aborijin dapat dilihat pada Gambar 4.4; gambar itu diambil dari Groote Elyandt.

Beberapa orang Aborijin ikut berlayar dengan para nelayan itu pada saat mereka pulang ke Sulawesi, dan kembali ke Australia pada musim monsun berikutnya, dan beberapa di antaranya ada yang menetap di Sulawesi.

Pengaruh orang Bugis dan Makasar masih dapat dilihat dalam bahasa dan kebiasaan yang digunakan oleh orang-orang tersebut pada saat ini.

sEjaRah haRi iBu!!



Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbeda dengan di Amerika dan Kanada yang merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei.

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan di tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda. Organisasi perempuan sendiri sudah bermula sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani), kongres berikutnya diadakan di Jakarta dan Bandung.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional, hingga kini.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.


Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen, setahun berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.

Tuesday, October 21, 2008

wHo aRe u??

Sanguinis, “Yang Populer”.


Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.


Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

Melankoli, “Yang Sempurna”.


Agak berseberangan dengan sang sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.


Orang melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang `melankoli’ tak `kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri `melankoli’ anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.



Koleris, “Yang Kuat”.


Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa sajaia `suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orangberusaha menghindar, menjauh agar tak jadi `korban’ karakternya yang suka `ngatur’ dan tak mau kalah itu.


Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua”. Karena itu mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Phlegmatis “Cinta Damai”.

Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan.
Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah parapendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.
Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, andaharus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya.

Thursday, October 16, 2008


Sebenarnya menurut anda "pacaran" itu apa sih? Ada banyak konsep tentang "pacaran" di benak kita. Dalam forum diskusi pun hal ini masih menjadi perdebatan."Pacaran" ada yang diartikan sebagai hubungan yang dijalani ketika seorang pria dan seorang wanita saling menyukai satu sama lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi, atau sebagai status yang me"legal"kan mereka untuk merasa bebas saat terlihat selalu berdua dan saling mengungkapkan ekspresi sayang, atau hubungan yang dijalani sebagai kesempatan untuk mengenal lebih dalam seseorang yang akan menjadi suami atau istri mereka di kemudian hari.Istilah "pacaran" sendiri memang hanya sekedar istilah, tapi yang penting adalah apa motivasi dari dan apa yang dilakukan dalam fase hubungan itu.Kalau mau jujur, pernah nggak anda merasa lelah menjalani "pacaran" yang putus sambung, baik dengan orang yang sama atau dengan beberapa orang yang berbeda? Atau mungkin bosan menjalani "pacaran" yang hanya coba-coba, memulai hubungan spesial dengan harapan-harapan indah tentang masa depan dengan si dia, tapi ternyata di tengah jalan harus putus karena ketidakcocokan, atau karena konflik yang berkepanjangan, atau karena ternyata si dia baru ketahuan "belang"nya setelah "pacaran". Lalu apa yang anda perbuat selanjutnya?Ijinkan saya menceritakan satu kisah, dan dari kisah ini mungkin anda mendapat "modal awal" untuk mendefinisikan kembali arti dari "pacaran" yang ingin anda jalani.Seorang pria dan wanita berkenalan, memulai semuanya dari hubungan pertemanan biasa, bersama-sama dengan orang-orang lainnya. Mereka terlibat dalam suatu komunitas yang sehat, yang memungkinkan mereka untuk saling berinteraksi dan saling mengenal sudut pandang dan karakter masing-masing secara umum dalam kondisi yang wajar. Kemudian salah satunya mungkin menyadari bahwa dia mulai menyukai yang lain... tapi dia tidak terburu-buru melakukan pendekatan secara eksklusif, dia hanya mulai bercakap-cakap lebih banyak untuk mengenal si dia lebih lagi, tapi masih dalam batas pertemanan atau persahabatan yang wajar. Tidak lupa, dia juga mulai melibatkan Tuhan sejak awal. Waktu terus berjalan, dan setelah mereka terus berinteraksi (baik secara berdua maupun dengan lingkungan pergaulan masing-masing), mereka menemukan bahwa ternyata mereka saling melengkapi (dan saling menyukai tentunya) dan mereka akhirnya memutuskan untuk "pacaran", setelah mereka saling mengetahui prinsip hidup masing-masing, karakter, dan hal-hal esensi lain yang dibutuhkan untuk mempertimbangkan apakah seseorang ini akan menjadi pasangan yang tepat yang ingin mereka nikahi kelak.Tentunya dalam kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu, karena memang kisah setiap orang berbeda-beda. Namun dengan konsep "pacaran" seperti itu, setidaknya kemungkinan untuk jadian-bubar atau putus-sambung bisa lebih diminimalisir, karena tujuannya bukan coba-coba, tapi masa "pacaran" dipandang sebagai masa untuk mengenal lebih dalam calon suami atau calon istri. Karena masa perkenalan dan juga pertimbangan untuk berkomitmen serius itu dilakukan sebelum "pacaran", maka dengan begitu keputusan yang diambil pun serius dan sudah dipertimbangkan cukup matang. Berbeda dengan konsep asal suka sama suka dan kenal hanya "kulit luar"nya saja lalu cepat-cepat memutuskan untuk "pacaran". Konsep yang terakhir inilah yang sering digembar-gemborkan oleh media, yang akhirnya juga membuat banyak dari kita terpengaruh. Kalau kita melihat ada seorang pria dan wanita yang sedang "dekat", kita langsung mengajukan pertanyaan menggoda, "Kapan nih jadiannya?" atau "Udah... jadian aja... tunggu apalagi sih?" Sehingga terkesan bahwa "pacaran" itu adalah sesuatu yang remeh, yang bisa diputuskan begitu saja kalau ternyata tidak sesuai dengan keinginan atau harapan sebelumnya. Bahkan parahnya, pernikahan sekarang ini juga banyak dipandang sama seperti "pacaran", terbukti dengan maraknya kasus perceraian di media... Inikah jenis relationship yang sebenarnya kita inginkan?Dalam hubungan khusus antara seorang pria dan wanita, tentunya ada perasaan yang terlibat, tepatnya hati kita ikut terlibat. Jika sebuah hubungan yang sudah dijalin itu diputuskan, pasti ada sebagian hati kita yang terluka. Adalah tanggung jawab kita sendiri untuk menjaga hati kita, karena hati kita memotivasi setiap tindakan yang kita lakukan. Itulah sebabnya dikatakan dalam Amsal 4:23: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan"Hanya satu yang perlu diingat, bahwa ada konsekuensi dalam setiap pilihan yang kita buat. Dalam sebuah relationship, keputusan yang diambil akan mempengaruhi bukan saja diri anda sendiri, tapi juga orang lain yang terlibat dalam hubungan tersebut. Karena itu, sangatlah penting untuk bersikap bijaksana dalam hubungan yang menyangkut hati ini.

Cara Memutuskan Hubungan Dengan BAik



Memutuskan hubungan dengan seseorang biasanya adalah sesuatu yang terasa canggung, menyakitkan, dan kadang membuat depresi. Tentu saja, terkadang itu juga bisa membuat perasaan lega. Tapi jika awalnya kita menginginkan hubungan itu berhasil dan kemudian menyadari bahwa itu tidak akan berhasil, maka itu adalah kejadian yang menyedihkan.Kebanyakan dari kita tidak ingin menyakiti orang lain saat kita putus dengan mereka. Bahkan terkadang kita mengijinkan hubungan itu berjalan lebih lama daripada yang kita rasa seharusnya, karena kita tidak ingin menyakiti orang lain, terutama jika orang itu mempunyai perasaan yang kuat terhadap kita, yang tidak lagi berbalas.Jadi bagaimana sebaiknya orang Kristen melakukan pendekatan terhadap situasi yang sulit ini? Saya pernah berada di dua posisi dalam keadaan ini dan saya telah merangkum daftar di bawah ini untuk menolong Anda melalui proses ini jika Anda benar-benar telah mempertimbangkan untuk putus dengan seseorang.Pertama, pastikan Anda benar-benar ingin putus. Semua hubungan pasti melalui saat-saat sulit dan Anda perlu memastikan bahwa ini bukanlah suatu masalah yang sementara. Luangkan waktu untuk membayangkan hidup Anda jika Anda tidak berada dalam hubungan yang sedang berjalan dengan seseorang ini. Kenali apakah masalah yang menyebabkan Anda ingin putus itu adalah masalah yang hanya berdasarkan situasi sementara ataukah masalah yang permanen (yang membuat Anda merasa bahwa keputusan yang terbaik adalah Anda berdua berjalan secara terpisah).Kedua, jika Anda telah melakukan langkah pertama dan mengetahui bahwa Anda memang perlu putus dengan seseorang ini, Anda perlu merencanakan kata-kata Anda dan waktu yang tepat. Yesus mengatakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Mat 7:12). Jadi prioritas pertama Anda adalah untuk mengakhiri hubungan Anda dengan seseorang ini dengan kasih, meskipun bukan jenis kasih yang romantis. Anda perlu memutuskan dia seperti cara yang sama yang Anda inginkan jika seandainya dialah yang memutuskan Anda. Tidak ada seorangpu yang mau diputuskan, tapi jika itu memang harus terjadi, maka ada cara-cara tertentu yang lebih baik kita hindari.Jika kita tidak ingin menyakiti orang yang dengannya kita ingin putus, maka kita perlu mundur sejenak dan mengevaluasi kesehatan rohani kita. Karena ini memang akan menyakitkan untuk mereka bagaimanapun kondisinya, jadi adalah baik jika kita berusaha untuk menyakiti mereka sesedikit mungkin. Alkitab mengatakan pada kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Jadi itu berarti kita tidak putus dengan mereka melalui email atau sms. Kita harus menghormati dan menghargai mereka dengan berbicara langsung bertatap muka dengan orang itu.Ketiga, terkadang dalam usaha menunjukkan belas kasihan, Anda malah membuat orang lain itu menjadi berharap. Ini berarti alih-alih mengakhiri hubungan sesuai rencana, Anda malah "menggantung" hubungan itu lebih lama karena Anda tidak ingin menyakiti orang lain. Biasanya ini malah akan melukai lebih dalam di jangka panjangnya. Jadi lebih baik jika Anda memang benar-benar ingin putus, lakukanlah. Itu memang seperti menarik plester dari kulit, memang sakit, tapi tidak akan mengurangi rasa sakitnya jika Anda mencoba melakukannya berulang-ulang. Jadi katakanlah dengan jelas jika memang itu yang Anda inginkan. Lebih baik mengijinkan orang lain untuk memulai proses pemulihannya daripada memberikan mereka harapan yang salah.Katakan kepada orang itu bahwa Anda peduli tentang mereka tapi ingin putus. Gunakan bahasa yang jelas dan tanpa berputar-putar sehingga mereka mengerti. Doakanlah mereka untuk yang terbaik dan katakan itu. Lalu pergi. Jangan membuat ini menjadi proses yang panjang, karena dengan menunda pertemuan, berarti Anda mengijinkan dia untuk berpikir bahwa dia mungkin saja bisa berbicara kepada Anda untuk tetap bertahan dalam hubungan itu. Wajar juga jika mereka mungkin masih menginginkan perhatian atau bahasa kasih sayang dari Anda. Dan karena Anda tidak ingin menyakiti mereka, Anda mungkin menyerah dan ini hanya akan membingungkan Anda berdua dan menyebabkan lebih banyak rasa sakit kepada orang lain di akhir hubungan. Kata-kata sudah cukup. Jaga kepala tetap dingin, bersikap sopan, sensitif, dan kemudian pergilah.Ke empat, Anda perlu menetapkan batasan yang tidak boleh diseberangi oleh orang lain itu. Jika Anda tahu orang lain itu masih ingin kembali bersama Anda, Anda perlu bersikap bijak sehingga Anda tidak sampai memberi mereka harapan bahwa Anda juga ingin kembali kepada mereka. Jadi terutama untuk beberapa bulan pertama, jika Anda berinteraksi dengan mantan Anda, Anda perlu berfokus untuk membatasi komunikasi hanya pada pembicaraan biasa (bukan hal-hal yang pribadi atau mendalam). Adalah penting bagi Anda untuk tidak membatalkan kembali langkah ketiga dengan kata-kata ataupun sikap Anda.Menurut saya, kedua orang yang telah putus tadi harus berada di sisi yang sama (sama-sama membuat batasan) jika mereka ingin bersahabat. Itu mungkin, tapi jarang terjadi dan cukup sulit. Jadi melangkahlah perlahan-lahan. Terkadang, jika mantan Anda akan berpindah hati, Anda harus membatasi persahabatan Anda. Mungkin terkesan kasar, tapi itu terkadang menjadi harga yang harus dibayar untuk sebuah hubungan romantis yang harus diakhiri. Jika Anda dan dia mempunyai teman-teman yang sama, bersikaplah bijak dengan perkataan Anda di sekitar mereka karena sama halnya dengan mantan Anda, jika dia seandainya ingin kembali berhubungan dengan Anda, dia akan mencari tahu apa yang Anda katakan kepada mereka yang mungkin mengisyaratkan bahwa Anda juga ingin kembali bersama mereka.Terakhir, hidup tetap berjalan. Itu kenyataan, tapi bukan berarti Anda bisa langsung menjalin hubungan baru sehari setelah Anda memutuskan hubungan dengan seseorang. Hanya Anda yang tahu kapan waktu yang tepat untuk hubungan yang baru, tapi tidak sehat bagi Anda untuk dengan sengaja menjalin hubungan yang baru dengan cepat. Ini juga tidak adil bagi mantan Anda, karena itu bisa membuat dia berpikir Anda sudah berselingkuh sejak Anda masih berhubungan dengannya. Itu dapat memperlambat proses pemulihan hati dan menambah rasa sakit yang sebenarnya tidak perlu.Jadi sepertinya akan adil jika Anda dan mantan Anda melalui masa setelah putus dengan pelan-pelan. Berikan diri Anda sendiri waktu untuk melewatkan waktu bersama teman-teman Anda dan waktu untuk siap secara emosional untuk hubungan yang lain jika itu yang Anda inginkan. Tidak ada orang yang ingin putus, tapi biasanya itu bagian dari hidup. Jangan mempermainkan atau menganggap remeh perasaan orang lain, tapi jangan juga dikendalikan olehnya.

Friday, October 10, 2008

Dampak pengampunan


Di dalam karya agung Victor Hugo, Les Miserables, terdapat kisah tentang dua tokoh, Uskup M.Myriel dan Jean Valjean.

Jean Valjean ditangkap polisi, dianiaya dan akhirnya dilempar ke dalam penjara hanya karena ia mencuri roti untuk memberi makan 7 keponakannya yang kelaparan. Akibat dari perlakuan yang tak berperi kemanusiaan selama bertahun-tahun ia berubah dari seorang yang lugu dan baik hati menjadi seorang yang berhati keras, penuh kebencian dan kepahitan. Hatinya sudah lama tidak lagi dapat merasa. Setelah 19 tahun di penjara, ia akhirnya dibebaskan. Surat keterangan dari penjara menggambarkan Valjean sebagai seorang penjahat yang sangat kejam dan berbahaya. Wajahnya saja sudah cukup membuat orang seram.

Selama empat hari ia berjalan dari satu kota ke kota yang lain tetapi tidak ada tempat penginapan yang mau menerimanya dan tidak ada tempat makan yang mau menjualnya makanan, sekalipun ia memiliki uang, hasil dari pekerjaannya di pertambangan penjara. Di suatu kota kecil, seorang wanita yang tidak mau menjual makanan kepadanya berkata bahwa hanya ada satu orang yang akan memberinya tumpangan, Uskup M.Myriel yang tidak pernah mengunci pintu rumahnya, apakah siang atau malam.

Sesuai dengan yang dikatakan, saat ia mendorong pintu rumah Uskup Myriel, pintu langsung terbuka dan ia melihat seorang pria tua bersama adiknya duduk di meja makan. Valjean langsung diundang untuk makan bersama dan disiapkan tempat tidur untuknya bermalam. Uskup di Perancis pada tahun-tahun 1800an mempunyai penghasilan yang cukup besar, sekitar £15,000, tetapi Uskup Myreil menyumbang £14,000 kepada orang-orang yang miskin dan hanya hidup dengan uang £1,000 per tahun. Motto hidupnya adalah, kita hidup bukan untuk melindungi nyawa kita tetapi untuk melindungi jiwa orang lain. Makanan yang disajikan tentunya sangat sederhana jadi Valjean tidak tahu bahwa ia sedang makan bersama seorang Uskup. Tetapi satu-satunya barang berharga di rumah Uskup tua itu adalah peralatan makan dan sepasang tempat lilin yang dibuat dari perak, yang merupakan harta warisan Uskup Myriel.

Sekitar jam 2 pagi, Valjean terjaga dari tidur dan pelbagai pikiran melintasi benaknya tetapi salah satu hal yang muncul terus adalah peralatan makan perak yang bisa saja bernilai sekitar £200. Tanpa berpikir panjang, Valjean dengan berhati-hati meninggalkan tempat tidur dan menghampiri lemari yang tak berkunci di ruang makan. Setelah mengambil peralatan makan yang berharga itu, ia melarikan diri lewat jendela di kamarnya.

Seperti biasa Uskup Myriel bersarapan dengan roti dan susu dari lembu peliharaannya. Pembantunya sebelum itu sudah mengabarkan bahwa peralatan makan peraknya sudah hilang dan Valjean sendiri sudah kabur. Uskup hanya berkata, "Ah, memang aku salah karena telah menyimpan apa yang sebenarnya merupakan milik orang-orang miskin. Valjean orang miskin dan memang barang-barang itu miliknya."

Pintu rumah Uskup Myriel sekali lagi didorong dan terlihat tiga polisi menggiring Valjean. Wajah Valjean sedikit ketakutan. Sebelum sempat polisi itu berkata apa-apa, Uskup Myriel langsung maju ke arah Valjean dan berseru, "Ah, engkau datang kembali juga! Saya senang melihat kamu. Tapi mengapa? Aku memberikan kepada kamu tempat lilin itu juga, yang sama seperti yang lain, diperbuat dari perak. Tempat lilin itu saja bisa dijual dengan harga £200. Kenapa hanya membawa peralatan makan?"

Mata Jean Valjean terbelalak memandang Uskup Myriel.

"Yang Mulia," tanya ketua polisi itu, "jadi apa yang dikatakan orang ini benar? Kami melihat dia berkelakuan seperti orang yang mau melarikan diri. Kami menemukan barang-barang perak ini..."

Uskup sambil senyum memotong percakapannya, "Dan dia memberitahu Anda, bahwa barang-barang ini telah diberikan oleh seorang imam tua yang memberinya tumpangan? Ah, dan Anda membawanya kembali ke sini? Anda telah keliru."

"Maksud Yang Mulia, kami bisa melepaskan dia?"

"Tentu saja," jawab Uskup Myriel.

"Apakah benar saya dibebaskan?" tanya Valjean dengan suara yang hampir tidak kedengaran, seperti orang yang sedang berbicara dalam mimpi.

"Sahabatku," lanjut Uskup Myriel, "sebelum Anda pergi". Uskup Myriel berjalan ke arah lemari dan mengambil tempat lilin itu dan menyerahkan kepada Valjean, "Ini dia, ambillah."

Jean Valjean dengan gemetaran dan tanpa berpikir menghulurkan tangannya mengambil kedua tempat lilin itu.

"Sekarang" kata Uskup itu, "Pergilah dengan damai. Dan lain kali, saat Anda kembali, tidaklah perlu lewat jendela. Pintu tidak pernah dikunci, tidak kira apakah siang atau malam."

Setelah polisi itu pergi, Uskup mendekati Valjean dan dengan suara yang perlahan berkata, "Jangan, jangan pernah lupa, bahwa Anda telah berjanji untuk menggunakan uang ini untuk menjadi orang yang jujur."

Seingat Jean Valjean ia tidak pernah menjanjikan apa-apa. Tetapi lidahnya kelu. Uskup Myriel melanjutkan dengan penuh keseriusan, "Jean Valjean, saudaraku, Anda tidak lagi milik yang jahat tetapi Anda milik yang baik. Yang telah aku beli dari-mu adalah jiwa-mu; Aku telah mengambilnya dari pikiran yang jahat dan roh kehancuran, dan aku memberinya kepada Tuhan."

Dari rumah Uskup Myriel, Jean Valjean meninggalkan kota itu seperti orang yang sedang dikejar bayangannya sendiri. Ia melintasi hutan, lembah, pergunungan seperti orang yang baru disambar petir. Ia tidak berpikir, tidak merasa karena ia tidak tahu apa yang harus dipikirnya. Sesuatu sedang terjadi di dalam hatinya. Terdapat pergolakan yang hebat di dalam jiwa dan sanubarinya. Hatinya yang sekeras batu, pertahanan yang menjadi perlindungannya selama ini mulai terkikis. Pikiran yang menghantuinya adalah "Kamu telah berjanji untuk menjadi orang yang jujur, jiwa-mu sudah kubeli, sudah kuberikan kepada Tuhan."

Di bawah sebuah pohon yang besar, akhirnya pertahanannya luluh dan buat pertama kali dalam 19 tahun ia menangis. Lama sekali Jean Valjean menangis. Ia menangis seperti seorang perempuan, dan dengan penuh ketakutan seperti seorang anak kecil. Terang mulai masuk ke dalam hatinya yang gelap. Hati yang sekeras batu mulai hancur dan hati nuraninya pelahan-lahan mulai hidup kembali.

Pengampunan Uskup yang tak diharapkannya itu merupakan serangan yang paling hebat ke atas kekerasan dan kebencian yang ada di dalam hatinya. Pengampunan itu juga yang mengembalikan kembali pengharapan dan terang di dalam hidupnya yang selama 19 tahun dijalani di dalam kegelapan. Sesuai dengan pesan Uskup Myriel, sejak hari itu Valjean menjalani hidupnya sebagai seorang yang jujur dan berintegritas.

(Perjalanan hidup Jean Valjean yang seterusnya dapat dibaca di dalam novel klasik sastrawan Perancis, Victor Hugo yang berjudul Les Miserables)