Indonesia adalah tetangga Australia yang terdekat. Hubungan antara kedua negara ini mempunyai sejarah yang panjang. Persamaan antara hewan dan tanaman yang ada di Australia, Irian Jaya, Nusa Tenggara dan Sulawesi merupakan bukti adanya hubungan tersebut. Juga terdapat hubungan sosial dan budaya. Cerita mengenai hubungan ini sudah lama dimulai dalam sejarah manusia. Namun sulit untuk mengatakan kapan tepatnya hubungan antara Australia-Indonesia itu dimulai. Dalam Bab 4 kita telah dijelaskan sedikit mengenai sejarah suku-suku bangsa Aborijin di Australia. Tampaknya orang-orang ini datang ke Australia dari utara. Mungkin mereka melewati Indonesia dalam perjalanan ke Australia. Pada waktu itu adalah Zaman Es.
Zaman Es
Selama Zaman Es, lautan antara Indonesia dan Australia lebih dangkal dan lebih sempit daripada sekarang. Pada saat itu Australia sebenarnya menyatu dengan gugusan daratan di Irian dan Papua Nugini.
Australia, Irian Jaya dan Papua Nugini membentuk sebuah benua yang disebut Sahul oleh para ahli geografi. Hubungan fisik antara Australia dan Irian Jaya saat itu pasti lebih mudah daripada sekarang.
Zaman Es itu berakhir kira-kira 10.000 tahun yang lalu. Lautan antara Australia dan Indonesia melebar dan kawasan yang mengaitkan keduanya terendam di laut Arafura dan Laut Timor.
Dingo
Kira-kira 4.000 tahun yang lalu muncul Dingo atau anjing hutan di Australia. Dingo serupa dengan Ajak di Indonesia (anjing hutan). Konon, ada orang yang membawa Dingo itu dibawa ke Australia. Tampaknya pengunjung ini datang dari Indonesia.
Cerita Baiini
Suku bangsa Yirrkala di Tanah Arnhem bercerita mengenai suatu suku bangsa yang disebut Baiini yang datang dari utara. Konon mereka datang dengan menggunakan perahu layar bersama keluarganya, lama sebelum hunian Eropa di Australia.
Orang-orang Baiini tersebut membangun rumah-rumah dari batu dan kayu di daerah sepanjang pantai. Mereka menanam padi yang mereka sebut luda. Di samping itu, orang-orang Baiini tersebut menenun kain yang berwarna cerah yang disebut jalajal dan menggunakan sarung yang berwarna-warni.
Menurut cerita, suku Baiini tersebut akhirnya meninggalkan Australia dan berlayar kembali ke utara, dan meninggalkan tanaman padinya. Saat ini ada semacam tumbuhan sejenis rumput di kawasan ini; tumbuhan itu digunakan sebagai makanan oleh bangsa Aborijin. Cerita-cerita mengenai Baiini disampaikan dari mulut ke mulut. Sulit untuk diketahui apakah cerita ini hanya merupakan dongeng ataukah bukan.
Perahu-perahu layar dan angin monsun
Dimungkinkannya perjalanan melalui laut terjadi sejak dikembangkannya perahu kano yang kemudian menjadi perahu layar. Mungkin ini semakin memudahkan hubungan antara Indonesia dan Australia. Angin monsun baratlaut membantu pelayaran dari Indonesia ke Australia. Ketika angin berubah arah, yakni pada awal musim monsun tenggara, maka dimungkinkan untuk berlayar kembali ke Indonesia.
Hubungan paling awal yang tercatat
Para nelayan Bugis dan Makasar secara teratur berlayar ke perairan Australia sebelah utara setidaknya sejak tahun 1650. Pelayaran ini mungkin dimulai pada masa Kerajaan Gowa di Makasar. Para pelaut Makasar dan Bugis ini menyebut Tanah Arnhem dengan sebutan Marege dan bagian daerah barat laut Australia mereka sebut Kayu Jawa.
Tidak seperti legenda Baiini, orang-orang Makasar dan Bugis tidak datang bersama keluarga mereka. Mereka berlayar dalam bentuk armada perahu berjumlah 30 sampai 60 perahu, dan masing-masing memuat sampai 30 orang. Tujuan mereka adalah untuk mencari ikan teripang yang kemudian mereka asapi. Kemudian mereka membawa tripang itu kembali ke Sulawesi, dan selanjutnya diekspor ke Cina. Perjalanan mereka itu disesuaikan waktunya supaya mereka tiba di pantai utara Australia pada bulan Desember, yakni awal musim hujan. Mereka pulang di bulan Maret atau April, yakni akhir musim hujan.
Para nelayan ikan teripang itu membangun rumah-rumah sementara, menggali sumur dan menanam pohon-pohon asam. Hutan kecil pohon asam tersebut masih ada sampai saat ini.
Banyak orang-orang Aborijin yang bekerja untuk para nelayan tripang tersebut, mempelajari bahasa mereka, menggunakan kebiasaan menghisap tembakau, membuat gambar perahu, mempelajari tarian mereka dan 'meminjam' beberapa kisah yang mereka ceritakan.
Sebuah lukisan perahu yang dibuat oleh orang Aborijin dapat dilihat pada Gambar 4.4; gambar itu diambil dari Groote Elyandt.
Beberapa orang Aborijin ikut berlayar dengan para nelayan itu pada saat mereka pulang ke Sulawesi, dan kembali ke Australia pada musim monsun berikutnya, dan beberapa di antaranya ada yang menetap di Sulawesi.
Pengaruh orang Bugis dan Makasar masih dapat dilihat dalam bahasa dan kebiasaan yang digunakan oleh orang-orang tersebut pada saat ini.

No comments:
Post a Comment